Senin, 25 Juli 2016
Berita 5W+1H Jurnalistik
AKIBAT HUJAN DERAS, SELAKAU DILANDA
BANJIR
Hujan deras mengguyur
hampir seluruh kecamatan selakau dan diperparah lagi adanya angin kencang
Minggu hingga Senin siang. Ada sekitar 7 desa dari 10 desa di Kecamatan Selakau terendam banjir. Sampai siang hari, hujan yang
mengguyur kawasan kecamatan selakau sejak Minggu malam sampai Senin siang
(12/10/2015) membuat sebagian besar desa di Kecamatan Selakau terendam banjir.
Sebut saja desa ‘Semelagi’
yang merupakan salah satu desa yang terparah direndam banjir. Menurut salah
satu warga di desa Semelagi yaitu bapak Tamrin, banjir diawali dengan hujan
deras yang turun terus menerus dan angin kencang selama 2 hari belakangan ini.
Debit air dan curah hujan yang tinggi kemudian menyebabkan banjir datang pada
malam hari kira – kira pukul 20.00 WIB. Waktu itu air mulai perlahan-lahan memasuki
perkampungan setinggi mata kaki. Kemudian setelah itu air terus naik dengan
sangat cepat hingga mencapai ketinggian kira-kira 1 meter atau kira-kira
sepinggang orang dewasa. Tidak ada korban jiwa, karena
sebelumnya warga desa sudah mengantisipasi bencana banjir yang akan terjadi. Sebagian
besar warga menyelematkan barang-barang mereka terlebih dahulu kemudian baru
mengungsi di rumah saudara mereka yang lebih aman. Bahkan ada sebagian warga
yang memilih tinggal di masjid dan tenda-tenda pengungsian. Akibat
dari bencana banjir ini warga tidak dapat beraktivitas seperti biasa,
kerusakan lahan pertanian, ternak banyak yang mati, dan kerusakan barang-barang
perabotan rumah, ujarnya.
Pemerintah daerah Kabupaten Sambas,
melalui kepala Camat Selakau dan Tim dari kecamatan, pihak puskesmas, dan
relawan mendatangi dan memberikan bantuan kepada seluruh desa yang terkena
bencana banjir di sela-sela jam dinasnya. Mereka memberikan bantuan berupa
tenda-tenda pengungsian, dan perlengkapan-perlengkapan semasa di tenda
pengungsian seperti beras, mie instan, air bersih, pakaian bekas, selimut, dan
obat-obatan.
Minggu, 17 Juli 2016
Wawancara Bencana Banjir
Hasil Wawancara Bencana Banjir
Pewawancara
:
Sekarang saya sudah berada di salah satu rumah warga
desa Semelagi, Kecamatan Selakau yang dilanda bencana banjir yaitu dengan bapak
Tamrin. Selamat siang pak, saya dari mahasiswa STKIP Singkawang, apakah bisa
minta waktunya sebentar untuk kami wawancarai ?
Narasumber :
Selamat siang, tentu saja, silahkan!
Pewawancara :
Sebelumnya saya turut prihatin atas musibah yang
menimpa rumah Bapak dan warga desa di sini.
Bisakah Bapak menceritakan bagaimana kronologi
terjadinya banjir ini ?
Narasumber :
Bencana ini diawali dengan hujan deras yang turun
terus menerus dan angin kencang selama 2 hari belakangan ini. Debit air dan
curah hujan yang tinggi kemudian menyebabkan banjir datang pada malam hari kira
– kira pukul 20.00 WIB. Waktu itu air mulai perlahan-lahan memasuki
perkampungan setinggi mata kaki. Namun, setelah itu air terus naik dengan
sangat cepat. Saya yang menyaksikan banjir yang mulai membesar segera
menyelamatkan barang – barang berharga ke tempat yang lebih tinggi. Setelah itu
saya menyuruh keluarga saya untuk mengungsi ke rumah saudara kami yang tidak
terkena bencana banjir. Sementara saya masih tetap di rumah dan berada di
bagian atas rumah yang saya buat untuk berlindung.
Pewawancara :
Jadi, kira-kira berapa meter ketinggian air pada malam
itu?
Narasumber :
Sangat tinggi sekali, kira-kira sepinggang orang
dewasa bahkan lebih.
Pewawancara :
Lantas, apakah ada korban jiwa yang disebabkan oleh
bencana ini ?
Narasumber :
Setahu saya tidak ada korban jiwa, karena pada waktu
itu warga desa cepat tanggap mengantisipasi bencana tersebut. Sebagian besar
warga menyelematkan barang-barang mereka terlebih dahulu kemudian baru
mengungsi di rumah saudara mereka yang lebih aman. Bahkan ada sebagian warga
yang memilih tinggal di masjid dan tenda-tenda pengungsian
Pewawancara :
Lantas, apa alasan Bapak masih memilih tinggal di sini
dengan kondisi banjir seperti ini ?
Narasumber :
Saya memilih tinggal di sini karena saya tidak mau
meninggalkan rumah dalam keadaan seperti ini, selain itu saya bisa menjaga
barang-barang yang masih ada di rumah.
Pewawancara :
Lalu, berapa kerugian yang Bapak dan keluarga alami
akibat banjir ini ?
Narasumber :
Saya tidak bisa memastikan kerugian yang saya alami, yang pastinya saya
tidak bisa bekerja seperti biasa, kerusakan lahan pertanian, ternak banyak yang
mati, dan kerusakan barang-barang perabotan rumah. Tetapi meskipun begitu, saya
masih bersyukur karena keluarga saya masih diberi keselamatan dari bencana ini.
Pewawancara :
Apakah sudah ada tindakan nyata dari pemerintah
mengenai bencana ini ?
Narasumber :
Alhamdulilah pemerintah cepat tanggap dalam menyikapi
persoalan ini. Mereka telah memberikan tempat pengungsian buat kami.
Pewawancara :
Menurut Bapak, apakah tempat pengungsian ini sudah
layak dan bagaimana pelayanannya ?
Narasumber :
Kalau dikatakan sudah layak apa belum, tempat ini
sudah cukup memadai. Hanya saja masih kurang beberapa fasilitas seperti tempat
MCK, dan tempat tidur. Saat ini satu tenda ditempati oleh 5 sampai 7 kepala
keluaraga, sehingga kurang luas. Pelayanannya cukup baik, kami mendapatkan
pengobatan dan makanan 3 kali sehari. Semua itu dilakukan oleh pihak Puskesmas dan
relawan yang membantu.
Pewawancara :
Apakah yang Bapak harapkan dari pemerintah saat ini?
Narasumber :
Saat ini kami memerlukan bantuan berupa bahan pokok,
pakaian, obat – obatan, dan selimut. Oleh karena itu, saya mengharapkan bantuan
dan uluran tangan dari pemerintah dan para relawan.
Pewawancara :
Baiklah terima kasih Bapak atas waktu dan
informasinya. Semoga banjir ini bisa berakhir segera agar Bapak dan warga desa
yang lainnya bisa beraktivitas seperti biasanya lagi. Mudah-mudahan pemerintah
cepat merespon dan memberikan bantuan kepada warga.
Narasumber :
Terimakasih kembali.
Langganan:
Komentar (Atom)
