EVALUASI
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Konsep
Evaluasi Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembelajaran
pada dasrnya membahas pertanyaan apa, siapa, mengapa, bagaimana, dan seberapa
baik tentang pembelajaran. Pertanyaan “Apa” berkaitan dengan isi dan materi
pembelajaran. Pertanyaan “Siapa” berkaitan dengan guru dan siswa sebagi subjek
dari kegiatan pembelajaran. Bagaimana kompetensi guru, bagaimana membangkitkan
partisipasi, motivasi, dan potensi yang dimiliki siswa. Pertanyaan “Mengapa”
berkaitan dengan mengapa dilakukannya proses pembelajaran. Pertanyaan
“Bagaimana” berkaitan proses pembelajaran yang lebih baik. Bagaimana strategi,
metode, dan teknik pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk belajar lebih
baik. Pertanyaan “Seberapa baik” berkaitan dengan penilaian proses pembelajaran
yaitu, sejauh mana siswa belajar dan guru mengajar.
Evaluasi
adalah suatu proses penetapan nilai yang berkaitan dengan kinerja dan hasil
karya siswa (Niko & Brookhart, 2007). Menurut Tyler (1950), evaluasi adalah
proses penentuan sejauh mana tujuan pendidikan telah tercapai. Evaluasi secara
singkat juga didefinisikan sebagai proses mengumpulkan informasi untuk
mengetahui pencapaian belajar. Masih banyak lagi definisi tentang evaluasi,
namun semuanya selalu memuat masalah informasi dan kebijakan, yaitu informasi
tentang pelaksanaan dan keberhasilan suatu program yang selanjutnya digunakan
untuk menentukan kebijakan berikutnya.
Jadi,
dapat disimpulkan konsep dari evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia adalah
proses mengumpulkan informasi apakah kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam
hal ini pembelajaran bahasa Indonesia sudah berhasil atau tidak yang
selanjutnya digunakan untuk menentukan kebijakan selanjutnya.
Batasan
dan Manfaat Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran
Berdasarkan konsep
evaluasi pembelajaran dapat dibatasi bahwa mata kuliah evaluasi pembelajaran bahasa
Indonesia ini merupakan mata kuliah yang terbatas hanya pada kegiatan evaluasi
pembelajaran, mulai dari evaluasi terhadap perencanaan pembelajaran, analisis
proses pembelajaran, sampai ke evaluasi terhadap hasil pembelajaran.
Manfaat
mata kuliah evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan mahasiswa mampu memahami konsep evaluasi pembelajaran bahasa
Indonesia, menentukan bentuk evaluasi bagi setiap materi ajar dengan tepat, dan
memberikan umpan balik dan penguatan untuk meningkatkan hasil belajar.
Hubungan
antara Rencana Pembelajaran, Interaksi Pembelajaran, dan Evaluasi Pembelajaran
Perencanaan
pembelajaran memainkan peranan penting dalam memendu guru untuk melaksanakan
tugas sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar siswanya. Perencanaan
pembelajaran juga dimaksudkan sebagai langkah awal sebelum proses pembelajaran
berlangsung.
Sedangkan interteraksi
pembelajaaran merupakan langkah kedua setelah perencanaan pembelajaran
dilakukan. Interaksi pembelajaran terjadi pada saat proses pembelajaran
berlangsung. Proses pembelajaran yang berlangsung yang melibatkan guru sebagai
pengajar sementara siswa sebagai pembelajar ini, menciptakan terjadinya
interaksi dan komunikasi.
Kemudian evaluasi
merupakan langkah terakhir setelah perencanaan dan proses pembelajaran yang
telah dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Evaluasi berguna untuk
mengetahui informasi tentang apa yang dicapai dan mana yang belum, dan
selanjutnya informasi ini digunakan untuk perbaikan dan peningkatan suatu program dan hasil
pembelajaran.
Jadi, berdasarkan
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa rencana pembelajaran, interaksi
pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran memiliki hubungan yang erat dan
ketiganya memiliki peranan penting dalam peningkatan kualiatas hasil belajar.
Bentuk-bentuk
Penilaian dalam Kelas
Penilaian
kelas dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran. Penilaian dapat
dilakukan baik dalam suasana formal maupun informal, di dalam kelas, di luar
kelas, terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar atau dilakukan pada waktu
yang khusus. Penilaian dalam kelas dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti
tes tertulis (paper and pencil test),
penilaian hasil kerja siswa melalui kumpulan hasil kerja (karya) siswa
(portofolio), penilaian produk tiga dimensi, dan penilaian unjuk kerja (performance) siswa (Depdiknas, 2004).
Tes tertulis merupakan tes dalam
bentuk bahan tulisan (baik soal maupun jawaban). Dalam menjawab soal siswa
tidak selalu harus merespon dalam bentuk menulis kalimat jawaban tetapi dapat
juga dalam bentuk mewarnai, memberi tanda, menggambar grafik, diagram, dan
sebagainya. Bentuk instrumen tes tertulis seperti pilihan ganda, benar-salah,
menjodohkan, isian, dan uraian.
Tujuan
dari penilaian tes adalah (1) mendiagnosa kekuatan dan kelemahan siswa, (2)
menilai kemampuan siswa (keterampilan dan pengetahuan atau pengalaman), (3)
memberikan bukti atas kemampuan yang telah dicapai, (4) menyeleksi kemampuan
siswa baik secara individu maupun kelompok, (5) monotoring standar pendidikan.
Penilaian
kinerja (performance assesment) merupakan
penilaian dengan berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta tes diminta
untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan-pengetahuan
yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks. Jadi, boleh
dikatakan bahwa performance assesment adalah
suatu penilaian yang meminta peserta tes untuk mendemonstrasikan dan
mengaplikasikan pengetahuan ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria
yang diinginkan.
Penilaian
portofolio merupakan penilaian dengan metode pengumpulan informasi atau data
secara sistematik atas hasil pekerjaan atau tugas-tugas seseorang (siswa)
(Depdiknas, 2004: 13). Portofolio artinya kumpulan karya atau tugas-tugas yang
dikerjakan siswa. Jadi, bentuk tes portofolio untuk mengetahui perkembangan
kemampuan atau unjuk kerja siswa, yaitu kumpulaan karya atau tugas yang
dikerjakan siswa.
Penilaian
proyek merupakan bentuk penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan siswa
dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak
dari pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data.
Karena dalam pelaksanaannya proyek bersumber pada data primer/sekunder,
evaluasi hasil, dan kerjasama dengan pihak lain, proyek merupakan suatu sarana
yang penting untuk menilai kemampuan umum dalam semua bidang. Proyek juga akan
memberikan informasi tentang pemahaman
dan pengetahuan siswa pada pembelajaran tertentu, kemampuan siswa dalam
mengaplikasikan pengetahuan, dan kemampuan siswa untuk mengkomunikasikan
informasi
Penilaian
sikap merupakan terhadap sikap manusia yang terbentuk melalui proses
pembelajaran dan pengalaman. Menurut Klausmeir (1985), ada tiga model belajar
dalam rangka pembentukan sikap. Model-model ini sesuai dengan kepentingan
penerapan dalam dunia pendidikan. Tiga model tersebut adalah (1) mengamati dan
meniru (2 ) menerima penguatan (penguatan positif dan penguatan negatif) (3)
menerima informasi verbal (melalui lisan atau tulisan).
Penilaian
diri (Self assesment) di tingkat
kelas PDK atau classroom self assesment (CSA)
adalah penilaian yang dilakukan sendiri oleh guru atau siswa yang bersangkutan
untuk kepentingan pengelolaan kegiatan belajar mengajar (KBM). Kriteria
penilaian diri meliputi: (1) isi materi yang disampaikan, (2) presentasi apa
yang telah diajarkan, dan (3) kerjasama di antara pimpinan sekolah, guru dan
siswa.
Analisis
Instrumen
Suatu
instrumen hendakanya dianalisis sebelum digunakan. Ada dua model analisis yang
dapat dilakukan, yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif
adalah analisis yang dilakukan oleh teman sejawat dalam rumpun keahlian yang
sama. Tujuannya adalah untuk menilai materi, kontruksi, dan apakah bahasan yang
digunakan sudah memenuhi pedoman dan bisa dipahami oleh siswa.
Analisis
kuantitatif dilakukan dengan cara mengujicobakan instrumen yang telah
dianalisis secara kualitatif kepada sejumlah siswa yang memiliki
karakteristik sama dengan siswa yang
akan diuji dengan instrumen tersebut. Jawaban
hasil uji coba itu lalu dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan
teknik yang ada misalnya Program
MicroCat. Hasil uji coba bertujuan untuk melihat karakteristik instrumen
seperti indeks kepekaan atau kesensitifan instrumen, yaitu dengan cara membagi
jumlah siswa yang menjawab benar dengan jumlah tes (Abdul Majid, 2009:223).
Manfaat
analisis intrumen adalah untuk mengetahui efektifitas suatu proses pembelajaran
dengan cara melihat karakteristik butir instrumen dengan mengikuti acuan
kriteria yang tercermin dari besarnya harga indeks sensitivitas. Jika tingkat
pencapaian suatu butir instrumen kecil (banyak siswa yang gagal), maka
pembelajaran tidak efektif. Oleh sebab itu, perlunya diadakan evaluasi
pembelajaran.
Hubungan
antara Evaluasi Pembelajaran dengan Upaya Memperbaiki Hasil Belajar
Tujuan
evaluasi pembelajaran adalah untuk meningkatkan kualitas, kinerja, dan hasil
karya siswa. Usaha peningkatan tersebut harus didasarkan pada kondisi saat ini
yang diperoleh melalui kegiatan penilaian. Data untuk kepentingan penilaian
diperoleh dengan menggunakan alat ukur. Alat ukur yang banyak digunakan dalam
penilaian pembelajaran adalah tes. Agar diperoleh informasi atau data yang
akurat, tes yang digunakan harus memiliki bukti-bukti tentang kesahihan dan
keandalannya. Jadi, peningkatan kualitas pengajaran memerlukan alat ukur yang
sahih dan handal.
Berdasarkan uraian diatas,
dapat disimpulkan bahwa evaluasi pembelajaran dengan upaya memperbaiki hasil
belajar memiliki hubungan yang erat. Hal ini dikarenakan evaluasi pembelajaran
merupakan langkah awal dalam usaha peningkatan kualitas pembelajaran. Evaluasi
dilakukan untuk mengumpulkan informasi dan untuk mengetahui sejauh mana
pencapaian terhadap hasil belajar.
Selanjutnya informasi ini digunakan untuk perbaikan dan peningkatan suatu program dan hasil
pembelajaran.
Daftar Pustaka
Depdiknas.
(2004). Pedoman pengembangan Bahan Ajar. Dikmenum.
Fajar,
Arnie. (2009). Portopolio dalam
Pembelajaran IPS. Bandung: PT Remaja Rosadakarya.
Klausmeir,
Herbert. (1980). Learning and Teaching
Concept. New York: Academic Press.
Majid,
Abdul. (2009). Perencanaan Pembelajaran. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Rasyid,
Harun, & Mansur. (2019). Penilaian
Hasil Belajar. Bandung: CV Wacana Prima.
Sumiati,
& Asra. (2009). Metode Pembelajaran. Bandung:
CV Wacana Prima.
Tyler,
w. Ralph. (1950). Basic Principles of
Curriculum and Instruction. USA: The University of Chicago.
.